Mustafa lutfi al-manfaluti

Siapakah yang tidak mengetahui polemik sastrawan Lekra serta Menikebu tahun 1962? Dikala itu Hamka dituding menjiplak karya al- Manfaluthi bertajuk Magdalena untuk novelnya yang bertajuk Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Setiap hari Bintang Timur merendahkan tulisan berseri buat melanda Hamka.

Hamka tidak menanggapi tudingan. Dia ketahui ini bukan cuma permasalahan sastra, tetapi terdapat faktor politik di dalamnya. Dia berdarah Masyumi, sedangkan lawan tandingnya merupakan Lekra, sayap Partai Komunis Indonesia. Hamka memilah supaya polemik ini diteliti oleh panitia kesuastraan di dasar Fakultas Sastra Universitas Indonesia buat meyakinkan apakah karyanya plagiat, saduran, ataupun asli.

Semenjak dikala itu, nama Mustafa Luthfi al- Manfaluthi akrab di kuping warga Indonesia. Sastrawan ini menghadirkan aksi menyadur karya asing, paling utama karya sastrawan Perancis ini ke dalam bahasa Arab. Menyadur memanglah tidaklah menerjemahkan secara letterlijk, namun menyusun kembali cerita secara leluasa tanpa mengganggu garis besar cerita.=

Karya saduran al- Manfaluthi merupakan Majdulin, saduran dari Souse s Telleuls karya Alfonso Carr, Al- Fadlilah, saduran dari Paul et Virginie karya Bernadin de Saint Pierre, As- Syair, saduran dari Cyrano de Bergerac

karya Edmon Rosten, serta Fi Sabil at- Taj, saduran dari karya yang ditulis oleh Francois Coubethe. Di samping menyadur, dia pula menulis sendiri 2 antologi cerpen, al- Ibarat serta al- Mukhtarat.

Al- Manfaluthi dilahirkan pada tahun 1876 di Manfalut yang terletak di provinsi Asyut, Mesir. Bapaknya, Sayyid Muhammad Luthfi

masih memiliki garis generasi dengan nabi Muhammad SAW lewat darah Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sebaliknya ibunya, Siti Hanim merupakan generasi Turki Corbaji.

Pembelajaran dasar al- Manfaluthi berlangsung secara tradisional di Kuttab. Dikala umur 11 tahun, dia telah hafal al- Qur’ an. Pada umur itu pula dia mulai belajar di al- Azhar, Kairo( tahun 1888). Di al- Azhar, dia bertemu dengan Muhammad Abduh( w. 1905) yang mengajar tafsir al- Qur’ an serta balaghah, sehingga pada kesimpulannya dia mulai mendalami ilmu sastra darinya.

Semenjak tahun 1905, al- Manfaluthi tinggal di kampung tamannya, Manfalut. Di tanah kelahirannya itu dia sering

menyelenggarakan seminar sastra. Pemikirannya ditulis dalam wujud postingan ataupun syair yang dikirim ke pesan kabat al- Mu’ ayyad.


Pada tahun 1908 dia kembali ke Kairo buat mengetuai pesan kabar

al- Mu’ yyad. Setelah itu dia dinaikan oleh menteri pembelajaran Sa’ angkatan darat(AD) Zaglul selaku direktur bahasa Arab di departemennya.

Kala Theodore Roosevelt( Presiden Amerika Serikat, 1901- 1912) tiba ke Khortum menghasut rakyat supaya memihak Inggris, Manfaluthi tampak melawan dengan menulis postingan‘ Majelis hukum Roosevelt di depan mahkamah majelis hukum.

Dunlop, konsultan Kementerian Pembelajaran mesir( petugas pemerintah kolonial Inggris di Mesir) marah serta bermaksud memecatnya, namun dibela oleh Sa’ angkatan darat(AD) Zaglul. Kala Sa’ angkatan darat(AD) Zaglul jadi menteri kehakiman, dia diberi jabatan yang sama di departemennya. Al- Manfaluthi meninggal di Kairo pada tahun 1924.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra mahjar (tokoh dan karyanya)

Kemunculan aliran neoklasik (Al-muhafidzun)

Ahmad Mathar