Prosa arab era modern (sastra)

Pada dini masa- masa ini, bahasa‘ aamiyah terletak dalam puncak kemerosotan. Setelah itu sehabis pengajaran tersebar ke seluruh susunan warga Mesir, masuklah kedalam bahasa mereka banyak sekali perkata fasih, yang setelah itu meluas kepada keluarga mereka yang buta huruf serta kepada kalangan perempuan.

Perihal ini ditunjang oleh pemakaian bahasa fasih dalam pengaduan- pengaduan ke Mahkamah, serta oleh banyaknya pesan berita, majalah- majalah, serta cerita- cerita sastra. Puisi- puisi tipe zaji, mawaliya serta wawu tumbuh, serta wawu tumbuh, serta pada masa Ismail Pasya puisi zaji menggapai puncaknya. Diantara para tokoh- tokohnya yang kenamaan yakni Muhammad Usman Jalal Bey, Sayid Abdullah an- Nadiem, Syaikh Muhammad an- Najjar, Syaikh Muhammad al- Qoushy, serta lain- lain namun tipe puisi ini kesimpulannya merosot karena dikalahkan oleh puisi fasih serta disebabkan keengganan para pembesar buat mendengarkannya.


Pertumbuhan prosa dalam kesusastraan Arab bisa dibedakan jadi 2 sesi, ialah:

1. Prosa pada sesi permulaan pembaharuan

Pada masa ini, para penulis masih menjajaki para pengarang masa tadinya, ialah masa Turki. Mereka tidak saja meniru gayanya, tetapi pula isinya. Mereka masih senantiasa mencermati saja( prosa lirik), jinas( asonansi), serta tibaq( antitesis). Mereka lebih mementingkan game perkata daripada isi serta idenya. Style serta isi semacam ini timbul di bermacam negeri Arab. Hendak namun, sehabis itu, timbul unsur- unsur update semacam yang nampak pada pengarang populer semacam: Adurrahman Jabarti( 1754- 1822), Ismail Khasab( w. 1815), serta Abdullah Fikri( 1834- 1889).

Unsur- unsur update dalam prosa Arab ini tumbuh secara bertahap dalam warga Arab. Para pengarang telah mulai mencermati aspek pemikiran serta arti tulisannya, kerutinan mengarang telah mulai berkembang dalam warga Arab. Di antara para pengarang masa ini merupakan Rifaat Tahtawi( 1801- 1873), Ibrahim al- Muwailihi( 1846- 1906), serta Nasif al- Jazili( 1800- 1871).


2. Prosa pada sesi pembaharuan

Terbentuknya update di bidang prosa pada masa ini diakibatkan oleh timbulnya para reformis serta pemikir yang menimbulkan terbentuknya update dalam warga Arab serta Islam, semacam Muhammad Abdul Wahab( 1703- 1792) di Saudi Arabia, Jamaludin al- Afgani( 1838- 1897) di Afganistan, serta Muhammad Abduh( 1839- 1905) di Mesir, dan Abdurrahman Kawakibi( 1849- 1902) di Syiria, dan timbulnya sarana- sarana kebudayaan, paling utama bidang penerbitan serta pesan berita. Pesan berita memiliki kedudukan besar dalam update prosa di negara- negara Arab, pula timbulnya pemahaman politik serta sosial di negara- negara Arab.

Identitas prosa pada masa ini merupakan lebih mencermati pemikrian daripada faktor gayanya, tidak banyak memakai perkata retoris semacam saja tibaq, semacam pada masa tadinya. Pemikirannya runtun serta sistematis, penulis tidak keluar dari sati gagasan ke gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu sudah berakhir, pendahuluannya tidak sangat panjang, temanya cenderung pada tema yang lagi terjalin pada warga, semacam permasalahan politik, sosial, serta agama.


Pertumbuhan prosa Arab pada sesi ini tidak berjalan pada satu garis, melainkan berjalan pada 2 kecenderungan. Kecenderungan awal, mereka yang menyerukan supaya berpegang teguh pada kebudayaan Arab serta Islam yang asli dengan mengambil khasiat dari kebudayaan Barat. Di antara para pengarang yang memiliki kecenderungan semacam ini merupakan: Mustafa Luthfi al- Manfaluti, Mustafa Shadiq ar- Rafii( 1881- 1937), Abdul Aziz Bisyri( 1886- 1943), Syarkib Arsalan( 1869- 1946), Ahmad Hasan az- Ziyat( 1885- 1968), serta Mahmud Abbas al- Aqqad.


Kecenderungan kedua, mereka yang sama sekali menjauhkan diri dari pengaruh kebudayaan Barat. Di antar pengarang yang masuk ke dalam kecenderungan ini merupakan: Amin Rihani( 1876- 1940), Ibrahim Abdul Qadir al- Mazini( 1890- 1949), Muhamad Husein Haekal( 1869- 1946), Ahmad Amin( 1878- 1954), serta Taha Husein.


Genre Prosa Modern


1. Rosail ataupun risalah

Rosail ialah salah satu genre prosa yang terdapat pada masa ini. pada akhir abad ke 19 serta dini abad ke 20 banyak ada kitab rosail populer karangan para sastrawan pada masa ini semacam Abdullah Fikry, Syeikh Muhammad Abduh, Hifni Na’ shif, Adib Ishaq, Ahmad Miftah, Abdul Aziz jäwiz, serta bahitah angkatan laut(AL) badiyah. Karangan mereka populer dengan istilah Rasail Al- Ikhwaniyah yang

mana uraian didalamnya menarangkan tentang sebagian ikatan kemanusiaan( ikatan sosial) antara lain merupakan perkataan selamat, perkataan bela sungkawa,

rindu, harapan, celaan, serta watak yang menggambarkan tentang kasus kehidupan, serta ikatan antara antara manusia.


2. Khitabah

Khitabah merupakan sejenis perkataan serta ialah metode buat memuaskan suatu dalam pengaruhi seorang maupun kelompok, hadirnya khitabah merupakan buat mempertahankan pendapatnya sendiri serta ialah respon terhadap hal- hal yang menyangkut komentar tersebut. Sebaliknya pertumbuhan khitobah pada masa ini lebih berisi tentang as siyaisyah ataupun politik.


3. Cerita( Qishshah) merupakan cerita tentang bermacam perihal, baik yang bertabiat realistis ataupun fiktif, yang disusun bagi urutan penyajian yang logis serta menarik, pertumbuhan Qishshah pada masa sastra Arab modern dibagi dalam 3 tahapan( Mansyur Ahmad dkk, 1972: 178), ialah:


1.Fase awal yakni fase penerjemahan Qishshah sastra Barat kedalam bahasa Arab, Rifah Athohtowi ialah sastrawan awal penerjemah Qishashah pada fase ini


2. Fase yang kedua merupakan fase buat Qishshah bahasa Arab, Qishshah ini timbul disebabkan timbulnya kisah- kisah tentang sejarah. George zaedan ialah orang yang awal kali menulis 18 cerita yang ditumpukan pada sejarah Arab Islam.


3.Fase yang ketiga merupakan Qishshah bahasa Arab yang timbul disebabkan terdapatnya cerita social.


Prosa modern memiliki 3 tipe utama, ialah:


1. Kitabah Diwaniyah(الكتابةالديوانية)

Kitabah Diwaniyah merupakan prosa yang ditulis dengan pena para kuttab diwan serta editor di suatu lembaga pemerintahan serta universal. Kitabah diwaniyah ada di Mesir serta Syam( Syria) pada permulaan masa modern. Prosa tipe ini memakai bahasa‘ amiyah yang bercampur dengan bahasa Turki, sebaliknya bahasa fushahnya ditiadakan. Perihal itu membuat prosa ini jadi lemah. Tipe prosa ini cuma terdapat di 2 negeri tersebut( Mesir serta Syam) serta negara- negara disekitarnya, semacam Irak

kira- kira sampai tahun 1325 H. Setelah itu para pemikir muda di Mesir mulai mengadopsi reformasi metode- metode kitabah diwaniyah. Perihal itu hadapi kemajuan dalam perkembangannya dari waktu ke waktu sampai pertengahan abad keempat belas serta sangat bagus dalam perihal kefasihan lafaz, kontinuitas style bahasa serta menjaganya dengan gampang.


2. Kitabah at- Ta’ lif(كتابةالتأليف)

Kitabah at- Ta’ lif merupakan tata cara yang diformulasikan/ disusun dari kenyataan ilmiah dalam seluruh bidang ilmu semacam fiqh, sastra, medis, serta lain- lain. Prosa ini memakai bahasa fushah ialah style bahasa yang jelas, beda dengan kitabah diwaniyah.

Dalam prosa ini tidak diperbolehkan memakai majaz dan jenis- jenisnya, semacam majaz aqli, mursal, isti’ aroh, kinayah serta tasybih dimni. Sebaliknya tasybih wadih boleh digunakan kala diperlukan buat menarangkan sebagian permasalahan. Pada permulaan masa modern bahasa karangan ialah kelemahan seni badi’, semacam halnya bahasa‘ amiyah pada style bahasa sebagian para pengarang, tercantum al- Gibrani serta Ibnu Ghanam. Kala koran mulai bermunculan, percetakan mencetak buku- buku tersebut. Para pengarang mulai menyusun style bahasa baru semacam al- Jahith serta Ibnu Kholdun. Hingga kitabah ta’ lif hadapi kemajuan sampai menemukan tempat di dunia percetakan. Style bahasa pengarang yang ilmiah jadi percontohan bahasa arab asli baik secara lafad ataupun style bahasa.


3. Kitabah Adabiyah(الكتابةالأدبية)

Kitabah adabiyah merupakan prosa yang dihasilkan oleh rasa serta perasaan insan yang menggambarkan keburukan serta kecantikan dan kejadian- kejadian dalam kehidupan manusia. Yang mana kala sastrawan mulai merangkai perkata mereka dipengaruhi intuisi serta perasaan dalam sesuatu peristiwa yang berbeda dengan kecenderungan serta orientasi si sastrawan pada tema- tema serta seni sastra. Begitu pula perbandingan keahlian sastrawan dalam bidang bahasa serta penggambaran sastra.

Pada permulaan masa modern prosa tipe ini mempunyai struktur lafaz tanpa rasa, intuisi, serta perasaan semacam dalam media massa. Saat sebelum pertengahan abad ketigabelas hijriah orang- orang Nasrani Barat menggiatkan prosa di Syam, spesialnya Lebanon. Mereka pula membuka sekolah- sekolah yang berupaya menarik atensi kanak- kanak negara pada prosa. Serta menjadikan bahasa Arab selaku bahasa pembelajaran, serta diwajibkan memakai buku- buku sastra arab dalam belajar mengajar. Hingga kanak- kanak Syam dipengaruhi oleh style bahasa arab klasik serta mereka mulai berupaya menyalinnya. Kitabah fanniyah digiatkan di Syam serta betul- betul diajarkan pada masyarakatnya yang kebanyakan orang- orang Nasrani yang hijrah dari Mesir yang melarikan diri dari Usmani. Mereka merintis koran( media cetak) di Mesir, yang mereka menyesuaikan diri dari koran Syam. Warga Mesir memandang terdapatnya pemikiran serta sastra yang mirip dengan Syam. Perihal itu menciptakan gerakan sastra yang menghidupkan kitabah fanniyah dengan baik serta para pemuda yang sangat unggul dalam bidang sastra itu memprioritaskan kitabah adabiyah. Perihal ini diwarisi dari tulisan- tulisan yang terdapat pada hadis- hadis serta karangan- karangan. Orang- orang yang awal kali menyebutkannya antara lain Mustafa Lutfi, Muh. Husein Haikal, Thoha Husein, serta masih banyak lagi. Dengan tangan merekalah kitabah adabiyah menggapai puncak kejayaannya sampai pada tahun 1372 H koran serta majalah tidak lagi berpedoman pada pemikiran ketuhanan.


Faktor- faktor yang pengaruhi pertumbuhan kitabah:

1.Timbulnya peninggalan Arab

2.Terdapatnya koran

3.Digiatkannya gerakan kritik

4.Kebangkitan universal yang memulai di bidang ini

Ciri Prosa Modern.

Dalam sejarah kesusastraan Arab modern, sastra prosa sudah sukses mengekspresikan atmosfer yang kontemporer serta menyebarkan isu- isu orang, keluarga, serta warga. Identitas kebangkitan sastra prosa pada masa ini bisa dilihat dengan terdapatnya atensi yang besar terhadap bangkitnya kembali karya- karya Arab klasik, baik dalam wujud kesusastraan, filsafat, serta disiplin ilmu yang lain. Identitas prosa pada masa ini merupakan lebih mencermati pemikrian daripada faktor gayanya, tidak banyak memakai perkata retoris semacam saja’, tibaq, semacam pada masa tadinya. Pemikirannya runtun serta sistematis, penulis tidak keluar dari satu gagasan ke gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu sudah berakhir, pendahuluannya tidak sangat panjang, temanya cenderung pada tema yang lagi terjalin pada warga, semacam permasalahan politik, sosial, serta agama. Pertumbuhan bahasa juga hadapi pergantian dari style tradisional, kalimat yang panjang- panjang, serta berbunga- bunga akibat pengaruh pleonasme serta pemakaian kosakata klasik berubah dengan style yang sejalan dengan era, serba pendek, serta serba kilat. Pertumbuhan bahasa juga hadapi pergantian dari style tradisional, kalimat yang panjang- panjang, serta berbunga- bunga akibat pengaruh pleonasme serta pemakaian kosakata klasik berubah dengan style yang sejalan dengan era, serba pendek, serta serba kilat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra mahjar (tokoh dan karyanya)

Kemunculan aliran neoklasik (Al-muhafidzun)

Ahmad Mathar